I Love You.

March 2, 2016Catatan Standard

“Aku mencintaimu (titik)”

Itulah yang saya tangkap dari kisah cinta seorang sahabat. Dari 2 kali kisah cintanya yang saya tahu, wanita ini sungguh membuka mata saya bahwa cinta yang tanpa syarat itu memang benar-benar ada. Terdengar klise memang, tapi sungguh ini bukan fiksi semata.

Wanita ini pada kisahnya yang pertama ditinggalkan begitu saja hanya dengan alasan brengsek bahwa si pria secara “tiba-tiba” sudah tidak ada rasa. Jika saya dalam posisinya, secara naluriah akan sangat marah dan bersumpah serapah serta memikirkan rencana jahat untuk membalas rasa sakit hati.

Tapi percaya atau tidak, alih-alih marah, mengutuk atau dendam kesumat, dia justru terus mengatakan pada semua orang bahwa pria itu tetaplah pria baik. Dan entah 1 atau 2 tahun setelah perpisahan itu, dia bertemu dengan si pria tanpa sedikit pun memendam rasa benci. Gila! Sudah pasti saya menganggap dia Gila!

Kisah cintanya yang kedua hanya sedikit saja perbedaannya. Dengan pria kedua dia menjalin hubungan yang cukup dekat, sembari tahu bahwa dirinya bukan satu-satunya wanita yang dekat dengan pria tersebut.

Yang saya tahu (dari cerita sahabat saya ini) pria itu sedang “menyeleksi” 2 orang wanita, salah satunya adalah sahabat saya. Tapi dengan kejujuran yang saya rasa kurang adil, si pria sering secara tersirat mengatakan bahwa wanita lain yang juga tengah ia dekati punya peluang yang lebih besar dibanding wanita sahabat saya ini. Tapi alih-alih segera menjauh, sahabat saya ini justru terus saja menikmati setiap kedekatan mereka tanpa peduli bahwa mungkin ia tak kan bisa memiliki pria tersebut.

Cinta yang datang selalu ia terima dengan lapang dada.

Ah, entah bagaimana mengungkapkannya. Saya sendiri mungkin merasa iri pada caranya menikmati cinta, seperti apapun terasa manis dan pahitnya.

Saya belum bisa mencintai seperti caranya mencintai. Cinta yang hanya ingin mencintai, itu saja! Cinta saya masih saja selalu memaksa ingin memiliki, selalu mengikuti ego yang besar. Cinta saya bahkan pernah dengan tega memaksakan orang yang saya cintai untuk terus bersama saya, tanpa peduli betapa berat baginya untuk terus bersama dengan wanita seperti saya. Cinta saya masih saja menuntut balasan cinta meski tahu saya tak cukup kuat untuk memaksakan.

Melihat sahabat ini, saya sungguh ingin mencoba menerima begitu saja cinta yang Tuhan anugerahkan. Hanya menerima tanpa meminta banyak hal yang menyulitkan. Saya ingin mencintai, itu saja! Saya ingin cinta berdiam dengan tenang di hati saya tanpa merasa sesak dengan timbunan syarat yang tidak perlu. Saya hanya ingin mencintai tanpa meminta apapun sebagai balasan. Saya ingin merasakan cinta yang benar-benar sederhana. Cinta yang hanya punya keinginan untuk mencintai, itu saja (titik)

 

Mandala Padma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *