Closed

February 18, 2016Cerpen Standard

Naraya masih saja sibuk mencuri – curi pandang pada pria yang tengah duduk di pojok ruangan. Usianya mungkin masih awal 30an. Penampilannya biasa saja, pekerja kantoran yang berkemeja lengan panjang digulung hingga siku. Kemejanya selalu dimasukkan ke celana panjang slim fit warna gelap. Tinggi dan berat tubuhnya pun sepertinya standar saja. Mungkin hanya lebih tinggi sejengkal dibanding Naraya. Perutnya tidak buncit tapi juga tidak terlalu atletis.

Penampilan fisiknya memang biasa saja, tapi entah kenapa Naraya seperti tersihir dengan ke-biasa saja-annya. Mungkin alis tebalnya yang membuat Naraya terpesona, atau bibir tipisnya, atau wajahnya yang bersih dari kumis maupun cambang, atau rambutnya yang dipangkas model undercut, atau kacamata bulat yang membuatnya terlihat cerdas. Entahlah, tapi yang jelas Naraya betah memandanginya berlama – lama.

Pria ini selalu memilih tempat duduk di pojok ruangan, atau jika bangku favoritnya sedang terisi orang lain, ia akan memilih bangku lain, asal disamping jendela. Dia selalu datang hari Senin, Rabu dan Jumat sekitar jam 9 malam, kadang lebih cepat dan kadang juga sedikit lebih malam, tapi biasanya akan pulang tidak lebih dari satu jam setelah kedatangannya.

Dia selalu duduk sendiri, menikmati secangkir kopi arabika Wamena yang diseduh dengan plunger sembari sibuk dengan buku di tangannya. Naraya tak pernah absen memperhatikan buku yang ia baca. Naraya masih mengingat semua buku yang pernah dibaca sejak Naraya mulai memperhatikan pria ini; Game of Thrones, Supernova, In the Absence of Light, A Forbidden Rumspringa.

Sudah sekitar sebulan Naraya selalu memperhatikannya, tapi tak berani bertindak lebih jauh. Jangankan untuk mengajak berkenalan, untuk menghampirinya saja Naraya tak berani. Walhasil ya hanya bisa menanti kedatangannya lalu curi – curi pandang saja sampai si pria ini pergi.

Hari ini Naraya berniat mengajaknya berkenalan. Ia sudah mempersiapkan kalimat yang dirasa tepat.

“Halo, saya Naraya, kamu suka ngopi disini ya? Boleh kenalan? Menurut kamu kopi apa yang paling enak disini? Kamu suka baca buku juga? Genre apa favorit kamu?”

Maka, hari ini Naraya berdandan lebih berlebihan daripada biasanya. Rambut dicatok lurus supaya tampak rapi, pipi diulasi perona tipis warna merah muda, alis dipertebal dengan pensil alis warna hitam, eyeliner dipakai dengan model cat eye, sedikit eye shadow warna coklat, mascara hitam tebal, dan tak lupa lipstik warna merah muda yang lembut.

Saat si pria sudah datang, hati Naraya tak karuan rasanya. Jantungnya berdegup kencang, keringat membasahi telapak tangannya yang mendadak sedingin es. Naraya gugup bukan kepalang, tapi ia bertekad harus tahu minimal nama pria itu hari ini. Syukur – syukur kalau diberi nomor telepon dan mereka bisa berbincang lama.

Naraya sudah hampir 3 tahun tidak berpacaran sejak pacar terakhirnya menghamili perempuan lain. Bukannya masih trauma, tapi memang belum ada yang membuatnya tertarik. Sampai akhirnya sekitar sebulan yang lalu ia melihat pria ini. Beruntunglah Naraya karena si pria yang sudah membuatnya terpesona ternyata seperti punya jadwal tetap mengunjungi kafe ini, sehingga Naraya bisa sering – sering memperhatikannya meski hanya curi – curi pandang saja.

Tapi hari ini, Naraya sudah membulatkan tekad untuk mengajaknya berkenalan. Bisa jadi inilah jodoh yang Tuhan kirimkan khusus untuknya. Naraya tidak mau begitu saja membuang kesempatan berharga untuk kembali punya pacar. Jadi, kini ia berusaha menguasai kegugupannya sebelum menghampiri pria yang sudah membuatnya terpesona dalam sebulan terakhir.

Naraya berusaha duduk setenang mungkin, menghirup nafas dalam berkali – kali, mengelus – elus rambutnya agar tetap rapi, sambil sesekali mencuri pandang ke arah si pria yang yang tengah duduk sendirian di pojok ruangan. Kafe sudah sepi sejak setengah jam tadi, jadi Naraya pikir inilah kesempatan terbaiknya. Ia tak perlu merasa malu pada pengunjung lain.

Naraya berdiri dari tempatnya duduk, masih mengatur nafas setenang mungkin, diambilnya selembar tisu untuk mengeringkan keringat di telapak tangannya.

Tiba – tiba pintu kafe dibuka. Seorang pria bertubuh atletis masuk. Tampaknya ia baru pulang dari fitness center, masih mengenakan kaos longgar berkerah v-neck dengan logo produsen sport apparel ternama, celana pendek selutut, sepatu olah raga berwarna cerah dan membawa sebuah tas besar berlogo sebuah fitness center yang terletak di lantai 4 gedung ini.

Pria atletis ini langsung menuju meja di pojok ruangan.

“Hai sayang, aku sengaja pulang agak cepat hari ini supaya kita bisa dinner bareng” katanya dengan ceria.

Si pria yang duduk di pojok ruangan langsung berdiri, tersenyum, mengulurkan tangannya ke pinggang si pria atletis lalu mencium bibirnya.

“Yuk, kamu mau makan malam dimana? Pokoknya kemana aja aku turutin deh, biar kamu nggak ngambek – ngambek lagi…hehehe”

Mereka keluar meninggalkan kafe sambil bergandengan tangan.

Naraya masih mematung di tempatnya berdiri. Mencoba menelaah apa yang baru saja terjadi. Sebulan memimpikan seorang lelaki, lalu kini mendadak mimpinya harus disudahi.

Beberapa menit kemudian, Naraya melangkah gontai ke arah pintu, dibaliknya tanda “Open” menjadi “Closed”. Tertutup sudah impiannya punya pacar baru yang gemar ngopi dan baca buku.

 

Mandala Padma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *