Arimbi Kemala Dewi

February 13, 2016Cerpen Standard

Kuberi dia nama Arimbi Kemala Dewi. Putri tercinta yang sudah kutunggu 12 tahun lamanya. Aku dan suamiku telah mengupayakan berbagai macam cara untuk menghadirkan seorang anak di dunia kecil kami. Tak jarang rasa frustasi mewarnai hari – hari penantian kami.

Bisa dibayangkan buncahan rasa bahagia kami ketika 6 bulan yang lalu dokter menyatakan tumbuhnya kehidupan di dalam rahimku dan telah berusia 3 minggu. Aku memeluk suamiku dan menangis penuh rasa syukur.

6 bulan selanjutnya terasa sangat berbeda bagiku dan suamiku, kami begitu bersemangat mempersiapkan segalanya. Nama laki – laki maupun perempuan akhirnya kami sepakati setelah perdebatan panjang berhari – hari. Jika sedang tidak ada jadwal ke dokter kandungan, akhir pekan kami habiskan dengan berkeliling toko perlengkapan bayi. Kami tak ingin ada keperluan buah cinta kami yang terlewatkan.

Tak bosan – bosannya setiap hari aku menuliskan berbagai hal tentang kehamilan ini di blog maupun media sosialku. Mengunggah foto – foto rontgen terbaru, berbagai perlengkapan bayi yang baru saja kami beli, suplemen dan vitamin yang harus kuminum setiap hari, juga menuliskan semua hal yang kurasakan selama masa kehamilan.

Suamiku pun begitu memanjakanku, tak pernah surut semangatnya mengingatkanku untuk makan makanan sehat, minum vitamin secara teratur, bahkan menemaniku jalan – jalan keliling komplek sebagai olah raga ringan. Dan tentunya tak pernah absen mendampingiku ke dokter.

Setelah masa penantian panjang yang kami lewati, anugerah ini begitu besar kami hargai.

Lalu 12 jam yang lalu, rasa sakit itu tiba – tiba terasa menggigit. Kubangunkan suamiku dari tidur nyenyaknya. Dengan penuh kepanikan melihatku yang terus mengerang kesakitan, ia pun segera mengantarku ke rumah sakit terdekat. Perjalanan kurasakan begitu berat, rasa sakit di perutku seakan tak bisa lagi ditawar.

Entah apa yang dokter bicarakan dengan suamiku, usai pemeriksaan aku dibawa ke ruang operasi. Rasa sakit mereda setelah suntikan di tulang belakangku. Aku tak sanggup bicara, perasaan berkecamuk, persalinan yang direncanakan mestinya masih 8 sampai 10 minggu ke depan. Suamiku menggenggam erat tanganku, mengelus kepalaku sambil menceritakan kembali banyak hal indah yang sudah kami lalui.

Bayi mungil kami kini kudekap erat dalam pelukan. Arimbi Kemala Dewi namanya, kuusap lembut wajah cantiknya dengan seluruh cinta yang kupunya. Kukecup keningnya dengan rasa sayang yang tak terhingga. Kunyanyikan lagu bintang kecil dengan bisikan lirih untuk bintang kecil kami.

Suamiku muncul dari balik pintu dan menghampiriku. Dikecupnya kening dan pipiku sembari berbisik “Arimbi kubawa pulang ya, ia harus segera dimakamkan sebelum dzuhur nanti”.

 

Mandala Padma

 

Note :
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #StorialGiveaways yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial

Enjoy this blog? Please spread the word :)