Anak – Anak Mas Bram

May 26, 2015Cerpen Standard

Dering handphone membangunkanku. Terlihat nama “Mas Bram” di layar. Hmmm, haruskah menelfon sepagi ini?

Dengan masih ogah – agahan kupencet tombol yes di handphone-ku.

“Ya?”

“Kamu sudah bangun?” tanya suara pria di ujung telfon.

“Hmm, ya. Baru bangun” kataku dengan mata masih terpejam.

“Anak ketigaku sudah lahir”

Ah, ya. Berita bahagia. Pantas saja Mas Bram menelfon sepagi ini.

“Di rumah sakit mana?” tanyaku datar.

“Rumah Sakit Bunda Putra”

“Kapan pulang?”

“Mungkin lusa, kau mau menjenguk kerumah saja?”

“Hmmm, ya. Aku benci bau rumah sakit”

“Baiklah”

Klik. Bunyi telfon ditutup dari seberang. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat dan bertanya bayinya laki – laki atau perempuan. Mas Bram memang sengaja tidak ingin mengatakan jenis kelamin anak ketiganya sebelum ia lahir.

Kulihat jam di handphone-ku. Jam 4.47 pagi. Tanggung untuk tidur lagi. Kucoba tetap membuka mata lalu dengan masih setengah mengantuk berjalan ke kamar mandi.

Selesai mandi, kusiapkan sarapan pagiku. Sepotong roti dengan selembar keju dan segelas susu rendah lemak. Kunikmati sarapan seraya memikirkan hadiah apa yang harus kubawa untuk anak ketiga Mas Bram. Mungkin satu paket pakaian bayi, atau perlengkapan mandi, selimut dengan warna pastel, selusin kain bedong, atau satu pack kondom agar mereka berhenti memproduksi bayi?

Kucoret pilihan terakhir. Setelah anak ketiga ini, aku yakin istri Mas Bram akan lebih memilih untuk tubektomi atau semacamnya agar tidak hamil lagi.

Aku segera mencuci piring dan gelas bekas sarapanku lalu berangkat kerja.

 

*****

 

Seharian di kantor aku masih enggan mengirim sms untuk mengucapkan selamat ataupun bertanya jenis kelamin bayi baru Mas Bram. Tidak ada kabar lain juga dari Mas Bram. Jadi kuputuskan untuk membeli hadiah yang unisex saja.

 

*****

 

Sepulang kerja kusempatkan untuk mampir ke supermarket. Berjalan diantara rak – rak kebutuhan bayi. Popok, bedak, sabun, baju, topi, kaus kaki, tissue basah, cotton buds, minyak telon, minyak rambut dan bahkan minyak wangi, semuanya terpajang rapi. Untuk apa bayi diberi minyak wangi? Bukankah bau sabun, minyak telon dan bedak mereka sudah cukup menimbulkan aroma khas bayi yang menyenangkan?

Sesaat kemudian aku mematung diantara susunan minyak telon dan minyak kayu putih. Membuka salah satu botol minyak telon, aroma khas bayi. Ah, andai saja aku berbelanja untuk bayiku.

Segera kumasukkan satu gift package “kosmetik bayi” kedalam keranjang belanjaan dan beranjak dari rak – rak kebutuhan bayi. Aku tak ingin larut dalam khayalan. Mas Bram dan istrinya lah yang baru saja diberkahi seorang bayi (lagi). Dan bukan aku.

 

*****

 

Sore ini kuselesaikan pekerjaan secepat mungkin. Aku ingin pulang lebih awal agar bisa menengok bayi Mas Bram dan istrinya dirumah mereka. Aku juga sudah tak sabar ingin mendengar celotehan Sakhila, anak kedua Mas Bram, usianya baru 3,5 tahun dan sedang belajar melafalkan huruf “R” dengan benar.

Sakhila adalah anak yang ceria, cepat akrab dengan siapapun dan sangat aktif. Kata istri Mas Bram, ia tak akan berhenti melompat kesana kemari kecuali sedang tidur.

Sakhila seperti dua sisi mata uang jika dibandingkan dengan kakaknya, Rakha. Sifat mereka begitu bertolak belakang. Usia Rakha lebih tua 5 tahun dari Sakhila. Rakha adalah anak yang pemalu, ia lebih pendiam dan cenderung menutup diri. Namun tampaknya Rakha mewarisi bakat menulis dari Ayahnya. Ia selalu unggul dalam pelajaran mengarang, bahkan ia pernah menulis sebuah puisi untuk Ayah Bundanya.

 

*****

 

Dua jam lebih molor dari rencana awal, tapi akhirnya aku sampai juga dirumah Mas Bram. Kuketuk pintu perlahan. Mas Bram sendiri yang membukakan pintu. Ia tersenyum lebar lalu menyilahkanku masuk.

Istri Mas Bram dan bayinya sedang tidur. Jadi aku menunggu saja di ruang tamu agar tak mengganggu. Mas Bram mempersilahkanku duduk dan bertanya aku ingin minum apa.

“Air putih dingin saja” kataku.

Lalu ia segera berlalu ke dapur.

Aku berdiri dan memandangi foto – foto yang terpajang rapi di dinding dan meja ruang tamunya. Foto – foto Mas Bram dengan istrinya, juga anak – anak mereka.

Tak lama kemudian Mas Bram muncul dari dapur membawa segelas air putih dingin. Disodorkannya gelas berisi air dingin itu, kuminum seteguk lalu melanjutkan melihat – lihat foto keluarga kecil Mas Bram sembari masih menggenggam gelas di tanganku.

Mas Bram lalu bercerita kapan foto – foto itu diambil. Saat Mas Bram dan istrinya masih pacaran, lalu foto pernikahan mereka yang bernuansa putih. Istri Mas Bram memang suka warna putih, katanya untuk melambangkan kesucian cinta mereka.

Lalu foto saat istri Mas Bram hamil Rakha lalu Sakhila dan anak ketiga mereka yang kemudian kutahu seorang bayi perempuan bernama Khiara. Entah kenapa, Mas Bram suka sekali menyisipkan huruf “H” setelah kuruf “K” di setiap nama anak – anaknya. Rakha, Sakhila dan Khiara.

Foto – foto bayi Rakha dan Sakhila dipajang rapi di tembok ruang tamu. Mas Bram dan istrinya menyusun foto mereka masing – masing disetiap ulang tahun. Tampak susunan foto dari sejak bayi hingga usia mereka sekarang.

Hmmm, aku selalu iri berada di ruang tamu ini. Foto – foto keluarga kecil Mas Bram dengan senyum dan tawa bahagia seolah justru menorehkan luka dihatiku.

Mas Bram lalu kedalam sejenak, dan kembali lagi dengan membawa foto Khiara. Aku lalu duduk di sofa, bersebelahan dengan Mas Bram yang ingin menunjukkan foto Khiara.

Bayi perempuan yang montok. Matanya masih terpejam rapat dan rona kemerahan mewarnai wajah dan seluruh tubuhnya. Khiara bayi perempuan yang cantik dengan rambut hitam cukup lebat. Alisnya tebal seperti alis Mas Bram, bibir dan hidungnya tampak mewarisi bibir dan hidung istri Mas Bram. Bayi perempuan yang sungguh cantik dengan pipi montoknya. Ah, lagi – lagi terbersit khayalan, andai ini adalah bayiku.

Lamunanku pecah dengan kemunculan Sakhila. Ia memanggil namaku lalu dengan ceria segera berlari memelukku. Sakhila baru saja bangun dari tidur siangnya yang kesorean. Tanpa diminta, ia sudah langsung saja nyerocos menceritakan adik barunya sambil duduk manis di pangkuanku.

Sakhila rupanya sudah menyiapkan sederet rencana bersama adik barunya. Ia ingin mengajari adiknya menari, lalu memotong rambut barbie dengan gaya rambut masa kini, memberi adiknya rok – rok lucu yang sudah tidak muat lagi ia kenakan, dan sederet rencana bermain ini itu yang terdengar cukup seru. Ia juga tampak tak sabar ingin adiknya segera bisa berlari bersamanya.

Gadis kecil ini bercerita sambil memainkan rambutku. Ia memang suka sekali menggulung – gulung rambut panjangku dengan jari – jari mungilnya. Seolah tak pernah lelah, Sakhila terus saja bercerita. Tentang adik bayi yang akhirnya keluar dari perut Bundanya, yang sudah membuat Bundanya gendut lamaaa sekali. Adik bayi lucu yang sekarang ia panggil “Kiala”.

Aku tersenyum mendengarnya menyebut nama Khiara dengan “Kiala” yang tiba – tiba mengingatkanku pada “Piala”. Piala yang hanya diraih oleh para pemenang. Mungkin anak – anak ini memang piala yang pantas diterima istri Mas Bram atas kesabarannya yang kata Mas Bram begitu luar biasa.

Aku hanya bisa menelan ludah getir setiap kali Sakhila bergelayut dengan manja dipelukanku. Nak, apa jadinya jika kau tahu bahwa aku sudah tidur dengan Ayahmu?

 

Mandala Padma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *